................."Halo!"
Hah? Buyar sudah lamunanku, aku juga terkejut karena tiba-tiba ada seseorang berdiri didepanku. Rasanya ingin geram, aku sudah hampir mengucap kata kasar saat aku lihat wajahnya. Jantungku berdegup kencang, bibirku serasa kaku.
"Oh." kataku terbata-bata. "Aku sudah berkali-kali menyapa tapi rupanya kamu sedang merenung atau mungkin sedang melamun?" tanya lelaki asing. "Ah, maaf. Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku.
Rupanya lelaki itu yang umurnya kukira-kira sekitar 23 tahun sedang mencari buku-buku panduan untuk kelas Biologi. Sayang sekali area di perpustakaan sedang diperbaiki dan harus ditutup karena alasan keselamatan. Aku hanya bisa memberi tahu bahwa beberapa buku yang dia cari bisa dibaca lewat Internet. Dia mengangguk dan berkata "Terimakasih" lalu pergi.
Aku tidak pernah melihat dia sebelum hari ini. Yah aku maklum, di universitas ini paling tidak ada sekitar 3000 orang tiap harinya. Tidak mungkin aku kenal dengan semua orang disini. Aku melirik ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 11:15. Yes! 15 menit lagi aku bisa pergi makan siang. Jangan dikira aku pergi ke cafetaria di universitas untuk makan siang. Walaupun menu-menu disana enak dan banyak, aku tak sanggup membayar $4 untuk makan siang yang cuma bisa membuatku kenyang selama 1 jam saja. Sudah 3 hari aku membawa sandwich dari rumah. Walaupun kadang aku merasa bosan, tapi aku ingat bahwa aku bisa berhemat jika tidak membeli makanan dari cafetaria.
Aku berjalan menuju meja yang sudah dikelilingi oleh teman-temanku dari kelas bahasa German. Fiona, si kutu-buku sedang membaca novel dalam bahasa German. Dia suka lupa tempat dan waktu kalau sedang membaca. Mateus, yang berasal dari Peru sedang melahap double cheese burger. Dia selalu berkata bahwa daging sapi di Amerika rasanya lebih lezat daripada di Peru. Aku sih tidak percaya, tapi selalu mengiyakan. Tasanya tidak adil melihat badannya yang masih kurus walaupun hampir tiap hari dia membeli cheese burger. Satu lagi teman yang selalu ada di cafetaria dengan Fiona dan Mateus adalah Lizzy. Aku sendiri tidak begitu kenal dia. Lizzy orangnya cuek, terlalu cuek malah. Kadang aku jadi salah tingkah jika aku harus memulai percakapan dengannya. Untung hari ini dia berkutat dengan telepon genggamnya, jadi aku tidak perlu menyapanya (kamu pasti berpikir aku orang yang tidak tahu sopan santun).