Saturday, September 25, 2010

Ujian siang hari ini tidak berjalan mulus. Andai aku merubah beberapa jawaban, pasti nilaiku berbeda. Arghhhh.....
Aku berjalan dengan gontai. Kulirik Fiona, dia tampak tenang-tenang saja. Aku dengar dia belajar mati-matian untuk ujian hari ini. Mungkin dialah yang mendapat nilai paling tinggi.
Ah, sudah sudah. Aku tak mau berpikir tentang ujian itu. Aku masih harus mengambil ujian untuk kelas lain, lebih baik aku belajar untuk ujian kelas komputer.


Friday, September 24, 2010

Hari kedua musim gugur

Udara hari ini lebih sejuk daripada kemarin.
Pagi-pagi aku cari cardigan hijau untuk kupakai pergi bekerja. Waktu sudah menunjukkan pukul 9:25 dan aku masih dirumah! Tidak! jeritku dalam hati. Dengan tergesa-gesa aku menuruni tangga dan berlari menuju kampus. Untung tempat tinggalku hanya 2 blok jauhnya dari sekolah. Biasanya bisa kutempuh 10 menit dengan berjalan kaki. Hari ini rupanya aku harus lari menuju kampus.
Mungkin aku terlahir untuk jadi orang yang terlambat. Hari ini contohnya, aku bangun 2 jam lebih awal dan aku masih saja terlambat! Untuk orang normal, diriku ini pasti sangat aneh untuk mereka.

Nafasku tersengal-sengal sesampai di perpustakaan. Untungnya hari ini perpustakaan ditutup karena ada perbaikan di ruang belajar, jadi pak Rama tidak akan tahu kalau aku terlambat 5 menit. Tugasku hari ini hanya memastikan buku-buku baru terdaftar di komputer dan menata kembali buku-buku yang sudah dikembalikan oleh mahasiswa-mahasiswa.

Oya, aku jadi ingat, Sophia bertingkah sedikit aneh setelah menyebut nama Ben. Sophia tidak berkata banyak tentang apa yang Ben katakan kepadanya. Aku sendiri tidak berani bertanya banyak. Sophia hanya menyebutkan bahwa Ben adalah teman sekolah semasa SMP. Mungkin lain kali aku tanya tentang Ben kalau Sophia menyebut namanya lagi.

Thursday, September 23, 2010

Hari pertama musim gugur.

"Mia, Mia... Mia......."

Sebulan yang lalu dia berdiri didepan pintu, memanggil namaku. Badannya yang tegap bersandar di bibir pintu. Hanya itu yang kuingat. Andai saja aku memalingkan wajah untuk melihatnya, aku pasti tidak berada disini sekarang.
Entah berapa ribu kilometer sudah aku tempuh. Tak mungkin aku kembali kepadanya dengan tangan hampa.

Lelaki tampan, semoga kau ingat janjiku untuk kembali.

Aih, sudah berapa lama aku termenung? Aku harus cepat-cepat pergi kuliah. Hari ini hari pertama musim gugur, tapi sekolah sudah mulai 1 bulan yang lalu. Aku bersyukur hari ini cuaca masih hangat. Sejak keluar dari pekerjaan yang lama, aku belum bisa membeli baju-baju hangat untuk musim dingin. Sophia, teman kuliah yang kaya sudah memamerkan mantel baru dari ermm.... rdrrrrrr......darimana ya? Entahlah, aku tak tahu pasti. Sophia terlihat cantik sewaktu mengenakan mantel barunya. Rambutnya pirang keemasan, begitu kontras dengan hitam kulit mantel musim dinginnya.
Oh, Sophia adalah teman disalah satu kelasku. Dia yang pertama kali menyapaku ketika aku tiba di kelas bahasa Jerman. Kenapa aku mengambil kelas bahasa Jerman? Aku sendiri tidak tahu. Awalnya hanya iseng, tapi Sophia berkata aku bukan pemalas ataupun pengecut, dan wanita sejati tidak akan menyerah. Mungkin dia tidak tahu, sejak mengambil kelas bahasa Jerman aku harus menambah jam kerjaku untuk membayar kekurangan uang sekolah.

Jadwal kita berbeda, namun Sophia selalu memastikan kita bertemu setiap Rabu siang di warung kopi dekat kampus untuk bercakap-cakap. Sophia adalah orang yang tepat waktu, sedangkan aku tidak. Kadang Sophia cemberut jika aku datang terlambat 2 menit.

Seperti biasa, aku lihat Sophia sudah mengambil tempat di meja nomor 8. Katanya nomor 8 adalah nomor keberuntungannya, jadi dimana-mana dia pasti minta meja nomor 8.
Kulihat jam tanganku, aku 1 menit lebih awal!

"Sophia, aku datang 1 menit lebih awal!"
"Ya, jalanmu lambat sekali." kata Sophia. "Kalau saja kamu lari dari ujung jalan, kita pasti sudah memesan minum 3 menit yang lalu."
Aku lihat ujung bibirnya naik. Hah, dia pikir dia bisa menakut-nakutiku?
"Aku hanya ingin air es." kataku.
"Itu saja?" "Baiklah, aku pesan satu gelas frappuccino. Ternyata temanku hari ini sedang pelit."
"hey.... tidak adil. Aku harus menabung untuk beli baju musing dingin..." semburku.

"Mia. Aku bertemu Ben."

Oh.... huh? "Sophia,...... siapa itu Ben?"